PALANGKA RAYA –Fenomena kemunculan sejumlah laki-laki yang bergaya seperti perempuan atau yang sering disebut “boti” viral di media sosial dan menjadi perbincangan masyarakat. Video dan foto yang beredar luas di berbagai platform menunjukkan kelompok pria dengan ekspresi feminim yang kerap tampil dengan gaya dan pakaian menyerupai wanita.
Fenomena tersebut disebut mulai sering muncul di sejumlah media sosial dan dikaitkan dengan aktivitas di Kota Palangka Raya. Kemunculan pria dengan gaya feminim ini pun memicu kekhawatiran masyarakat karena dinilai dapat mempengaruhi generasi muda.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, mereka terlihat mengenakan pakaian layaknya perempuan serta menampilkan gestur dan perilaku yang dianggap menyerupai wanita. Sebagian pihak menilai hal tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun tidak sedikit pula masyarakat yang merasa risih dengan penampilan tersebut.
Menanggapi hal itu, Satgas Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Kalimantan Tengah, Widiya Kumala Wati yang akrab disapa Kak Yaya mengatakan bahwa fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama, khususnya bagi para orang tua.
“Keberadaan mereka bisa berpengaruh pada anak-anak sehingga perlu pengawasan orang tua harus lebih ketat,” ujar Widiya Kumala Wati, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya, terutama di era media sosial yang sangat mudah diakses. Selain pengawasan, orang tua juga diharapkan dapat mengarahkan anak-anaknya pada kegiatan yang lebih positif.
“Orang tua harus lebih waspada terhadap pergaulan anak-anaknya. Arahkan anak untuk melakukan kegiatan positif seperti olahraga, seni, atau aktivitas yang berkaitan dengan kreativitas,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan kepada anak juga harus dilakukan dengan cara yang baik dan mendidik, bukan dengan kemarahan. Orang tua diharapkan mampu memberikan pemahaman serta penguatan karakter baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.
“Orang tua harus berperan dan tegas dalam hal ini serta memberikan penjelasan dengan cara yang tenang dan mendidik, bukan memarahi anaknya. Penguatan karakter sangat penting baik di rumah maupun di sekolah,” tambahnya.
Widiya Kumala Wati juga menegaskan bahwa perilaku yang menyimpang dapat berdampak pada cara pandang anak terhadap dirinya sendiri jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Saya berharap para orang tua sadar. Jika memiliki anak laki-laki yang menunjukkan perilaku menyimpang, berikan edukasi tentang batasan tubuh dan berperilaku yang pantas,” tandasnya. Zal




