MUARA TEWEH, Kaltengtimes.co.id – Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, Ardianto, menyoroti keterbatasan peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Kecamatan Teweh Selatan dan Desa Bintang Ninggi II. Ia mendorong pemerintah daerah memperkuat sarana dan prasarana agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Hal tersebut disampaikannya saat mengikuti rapat koordinasi penanggulangan karhutla di Aula Kecamatan Teweh Selatan, Selasa (15/9/2026). Rapat digelar menyikapi meningkatnya titik panas (hotspot) dan kabut asap yang terjadi sejak Agustus 2026.
Ardianto mengatakan, kebakaran di wilayah Teweh Selatan telah berlangsung sekitar satu bulan. Kondisi angin kencang membuat api semakin sulit dikendalikan karena bara dapat terbawa angin dan memicu titik api baru yang berjauhan dari lokasi kebakaran awal.
“Kalau kita mencari siapa yang membakar hari ini saya yakin sulit mencari pelaku. Api yang terjadi saat ini bisa menyebar berkilo-kilo, terutama karena letikan bara yang terbawa angin kencang,” ujar Ardianto dalam rapat tersebut.
Ia mengungkapkan, kebakaran juga terjadi di lahan miliknya meskipun telah dibuat sekat bakar selebar lebih dari enam meter dengan bantuan perusahaan.
“Lahan saya sudah disekat, lebarnya lebih dari enam meter. Tetapi saat angin kencang, api datang dari arah selatan. Tiba-tiba di tengah kebun saya sudah muncul api dan asap,” katanya.
Akibat kejadian itu, sekitar empat hektare kebun miliknya ikut terbakar. Menurut Ardianto, kejadian tersebut menunjukkan bahwa penyebab kebakaran perlu ditelusuri secara cermat dan lahan yang terbakar tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan pembakaran oleh pemiliknya.
Api dari lokasi lain, lanjutnya, dapat merambat atau terbawa angin hingga mencapai lahan yang memiliki material mudah terbakar, sehingga memperluas area terdampak.
Ardianto menilai pencegahan harus dilakukan sejak potensi kebakaran terdeteksi. Ia mengaku telah menyampaikan masukan kepada Pemerintah Desa Bintang Ninggi II sejak bulan sebelumnya agar melakukan pemetaan lahan masyarakat yang berpotensi terbakar.
“Sejak bulan lalu saya sudah menyampaikan kepada kepala desa agar segera mendeteksi lahan masyarakat yang siap terbakar di wilayah Bintang Ninggi II. Kalau tidak memiliki peralatan canggih, bisa bekerja sama dengan perusahaan, terutama menggunakan drone,” jelasnya.
Menurutnya, pemetaan menggunakan pesawat nirawak atau drone dapat membantu pemantauan wilayah yang memiliki hamparan lahan luas. Berdasarkan pengalamannya, lahan yang berpotensi terdampak kebakaran dapat mencapai ratusan hingga sekitar seribu hektare apabila tidak dilakukan upaya pencegahan sejak dini.
Karena itu, ia mendorong pemerintah desa, perusahaan, dan pihak terkait memperkuat koordinasi dalam mendeteksi potensi kebakaran, memantau kondisi lapangan, serta mengambil langkah pencegahan sebelum api meluas.
Peralatan MPA Perlu Diperkuat
Di sisi lain, Ardianto mengapresiasi peran Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Bintang Ninggi II yang selama ini aktif membantu penanganan kebakaran. Namun, upaya mereka di lapangan masih terkendala keterbatasan sarana dan prasarana.
“Teman-teman MPA selama ini tidak kurang-kurangnya menangani api. Tetapi peralatan mereka sangat minim, mulai dari selang, mesin pompa sampai kendaraan operasional,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kebutuhan peralatan pemadaman, termasuk selang, mesin pompa, dan kendaraan operasional bagi tim yang bertugas di lapangan.
Menurutnya, dukungan peralatan yang memadai sangat dibutuhkan agar petugas dan relawan dapat merespons kebakaran lebih cepat, terutama ketika api muncul di lokasi yang sulit dijangkau.
Ardianto berharap penguatan sarana pemadaman, pemetaan wilayah rawan, dan koordinasi lintas sektor dapat membantu menekan risiko meluasnya karhutla di Kabupaten Barito Utara. (Red)
