Palangka Raya, Kaltengtimes.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyikapi secara hati-hati laporan dugaan keterlibatan dua siswa sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam aktivitas permainan daring yang mengandung unsur kekerasan. Informasi awal menyebutkan aktivitas tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan aplikasi permainan daring Roblox.
Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, mengatakan pihaknya baru menerima laporan terkait peristiwa tersebut dan masih melakukan pendalaman sebelum mengambil kesimpulan. “Saya baru menerima laporannya. Tentu akan kita cek kembali. Kita harus sangat berhati-hati dalam menyikapi hal seperti ini,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin terburu-buru dalam menyimpulkan suatu kasus tanpa verifikasi yang komprehensif. Untuk itu, Pemprov Kalteng telah melakukan koordinasi awal dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kalteng.
Selain itu, sinergi juga dilakukan bersama aparat keamanan guna memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur serta menghindari kesimpulan yang keliru. Wagub juga mengingatkan pentingnya peran orang tua, pihak sekolah, dan lingkungan dalam mengawasi aktivitas digital anak, terutama dalam penggunaan permainan daring yang berpotensi mengandung unsur kekerasan atau perilaku negatif.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalteng, Muhammad Rus’an, membenarkan adanya laporan awal terkait aktivitas tersebut. Namun, ia menegaskan hingga saat ini belum ada kesimpulan final mengenai muatan maupun arahaktivitas yang dimaksud. “Memang ada laporan terkait game online yang mengarah pada kekerasan atau sadisme. Namun, untuk menyimpulkan ke hal lain, kita juga harus berhati-hati. Saat ini masih dalam tahap pendalaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah mengedepankan pendekatan perlindungan anak dalam menangani kasus ini, dengan fokus pada pemahaman konteks, pola interaksi digital, serta potensi dampak psikologis terhadap anak-anak yang terlibat.
Sebagai langkah pencegahan, Pemprov Kalteng juga mempertimbangkan peningkatan sosialisasi literasi digital di sekolah-sekolah agar anak-anak tidak terpapar konten daring yang tidak ramah anak.
Saat ini, koordinasi lintas instansi terus diperkuat, termasuk dengan pihak sekolah dan aparat keamanan, guna memastikan penanganan kasus berjalan optimal serta tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.(red)




